^Back To Top
foto1 foto2 foto3 foto4 foto5
.:. Selamat datang di situs resmi SMA Muhammadiyah Tarakan :: The Real School  .:.

Teladan Ahmad Dahlan

Renungan Milad 1 Abad Muhammadiyah-Teladan Ahmad Dahlan

K.H. Ahmad Dahlan

Pada saat puteranya yang bernama Jumhan sakit keras, K.H.Ahmad Dahlan yang sedang mengajar dipanggil pulang oleh isterinya. Waktu itu beliau pun pulang dan bertemu dengan anaknya itu. Lalu K.H. Ahmad Dahlan berkata, ”Anakku Jumhan, berdo’alah kepada Allah supaya kamu segera diberi kesembuhan dan sehat kembali. Kalau toh Allah menghendaki kamu karena waktunya sudah datang untuk menghadap kehadirat-Nya, kamu anakku insya Allah akan bertemu kakakmu Juhanah. Maka tetapkanlah hatimu dan bersabarlah.” Juhanah adalah kakak Juhan yang telah meninggal lebih dulu. Kemudian kepada isterinya, beliau berpesan, ”Janganlah kamu mempunyai keyakinan bahwa, kalau saya tetap menjaga anakmu ini maka dia akan sehat. Dan kalau saya tidak disampingnya, maka dia akan meninggal. Bukankah hidup dan mati itu di tangan Allah ?” Setelah berkata demikian kepada anak dan isterinya itu beliau pun bergegas pergi melanjutkan mengajar.

Kisah ini menggambarkan besarnya rasa tanggung jawab Kiyai Ahmad Dahlan dalam megemban tugas yang diamanahkan kepadanya. Hal mana sering dilalaikan oleh sebagian oknum guru yang dengan mudahnya meninggalkan murid di kelas hanya untuk keperluan yang tidak teramat penting, seperti menerima panggilan dari ponselnya, mengobrol dengan guru lain di ruang kantor, masih asyik makan di kantin, atau merasa tanggung menghabiskan rokok. Ada juga yang hanya meninggalkan catatan atau tugas, sementara sang guru pergi untuk keperluan yang tidak jelas. Padahal untuk tugas itu sang guru terebih dulu dilantik dan diambil sumpah secara formal dengan kitab suci Al Qur’an sebagai saksinya, yakni pada saat pengangkatan dirinya sebagai pegawai. Tentu tidak demikian dengan K.H.Ahmad Dahlan. Namun rasa tanggung jawab mengemban amanah bagi beliau bukanlah diukur dari acara pelantikan dan pengambilan sumpahnya, melainkan dilihat dari seberapa besar rasa tanggungjawabnya kepada peserta didik dan proses pembelajaran yang harus dilaksanakannya. Memang K.H.Ahmad Dahlan bukanlah seorang nabi atau rasul. Beliau adalah seorang sholeh yang patut diteladani. (Syamsi Sarman-PDM Kota Tarakan)

Ahmad Dahlan Bapak Pendidikan

K.H. AHMAD DAHLAN BAPAK PENDIDIKAN. Banyak orang yang akan terkejut mendengar pernyataan tersebut, yakni K.H.Ahmad Dahlan dengan gelar Bapak Pendidikan. Pasalnya adalah karena selama ini gelar tersebut disandangkan kepada Ki Hajar Dewantara. Di semua buku sejarah mulai SD sampai Perguruan Tinggi bahkan buku-buku referensi pengetahuan umum dan ensiklopedia memang sudah demikian adanya. Tanpa bermaksud menggugat sejarah yang telah berumur puluhan tahun ditulis oleh para ahli itu, tulisan ini hanyalah ungkapan rasa keadilan sejarah, sekaligus sebuah penghargaan dan rasa syukur dari anak bangsa yang menyaksikan fakta yang tak terbantahkan dari kiprah perjuangan K.H.Ahmad Dahlan di bidang pendidikan. Bagaimana tidak, jika Ki Hajar Dewantara yang telah mempelopori pendidikan bagi pribumi di masa penjajahan Belanda dengan Perguruan Taman Siswanya, yakni sekolah nasional yang pertama dan yang terakhir (karena tidak ada kelanjutannya) alhamdulillah dihargai sebagai sebuah monumental kebangkitan bangsa di bidang pendidikan. Bagaimana dengan K.H.Ahmad Dahlan yang juga merintis pergerakan Muhammadiyah dengan model sekolah agama modern pertama, dan sampai sekarang sekolah rintisan itu tetap ada, tumbuh dan berkembang menyebar di seluruh tanah air. Tentu lebih pantas kan jika diberi gelar Bapak Pendidikan. Bahkan hingga saat ini tidak ada lagi seorangpun setelah beliau yang mempunyai karya spektakuler seperti itu. Semangat untuk membangun bangsa dan negara lewat jalur pendidikan telah tertanam secara generasi ke generasi diantara kader Muhammadiyah. Ribuan sekolah Muhammadiyah tersebar dari perkotaan hingga ke pelosok dan pesisir di seluruh daerah Nusantara. Bahkan hampir setiap sekolah itu mempunyai historis yang sama yakni dibangun secara swadaya oleh kader Muhammadiyah beserta masyarakat setempat. Apa yang disajikan dalam film Lasykar Pelangi merupakan contoh sekaligus fakta perjuangan kader-kader Muhammadiyah yang gigih tak kenal menyerah membangun masyarakat Indonesia yang berpendidikan, bermartabat dan berkemajuan.

Fenomena yang serupa juga terjadi di bumi Paguntakan Tarakan. SD Muhammadiyah 2 Jembatan Besi misalnya, semula masih menyatu dengan masjid Al Amin. Ketiadaan sarana prasarana belajar membuat para pengurus waktu itu memberlakukan sistem bongkar pasang satu tempat dua fungsi. Sehari-hari dipakai untuk sekolah, dan kalau mau Jumatan maka meja kursinya disingkirkan untuk sementara. Begitu selalu hingga terbangun gedung SD sederhana dari bahan kayu. Sekarang sudah menjadi bangunan permanen dua lantai. SD Muhammadiyah 1 Selumit, bahkan sebelumnya pernah menggunakan bangunan pinjam pakai. Dan tahun ini Muhammadiyah mampu membeli 1 komplek sekolah berisi 8 unit bangunan permanen dengan harga 2 Milyar Rupiah. Sekolah yang sebelumnya milik Yayasan Duta Harapan ini terletak di pusat kota sehingga mudah terjangkau transportasi dari segala jurusan. Dan insya Allah tahun depan akan difungsikan menjadi kampus Perguruan Tinggi Muhammadiyah Tarakan. Torehan buah pikiran K.H.Ahmad Dahlan seakan tak kan pernah berhenti. Dari masa ke masa sekolah-sekolah Muhammadiyah terus tumbuh berkembang mewarnai misi mencerdaskan kehidupan bangsa. (Syamsi Sarman-PDM Kota Tarakan)

 

 

Qur'an Digital

Tiada sholat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu’.
Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia.
Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur’an tanpa mengambil pangajaran daripadanya.
Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara’.
Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi.
~ Sayidina Ali Karamallahu Wajhah

Photo Gallery

Pengunjung

412473
Your IP: 54.205.211.87
Server Time: 2019-01-17 23:54:00
Copyright © 2014. SMA Muhammadiyah Tarakan